Namun manusia ada yang mengikuti ajakan para rasul dan ada yang menntangnya. Terakhir Allah SWT mengutus Nabi Muhammad saw. sebagai rasul terakhir kepada seluruh umat manusia dengan ajaran dasar yang dibawa oleh para rasul terdahulu, yaitu bertuhan yang satu, Allah SWT. Akhlak Terbaik: Rida terhadap Takdir Allah SWT (66) 19 A Alam sebagai rahmat dan karunia Allah SWT. Akhlak kepada lingkungan adalah perilaku atau perbuatan kita terhadap lingkungan, Akhlaq terhadap lingkungan yaitu manusia tidak dibolehkan memanfaatkan sumber daya alam dengan jalan mengeksploitasi secara besar-besaran,sehingga timbul ketidakseimbangan alam dan kerusakan bumi. QS. al-Hasyr, 59:7). Di antara akhlak Rasulullah SAW yang patut kita teladani atau ajaran yang dibawanya yang patut kita ikuti dan laksanakan adalah: Pertama, melaksanakan shalat lima waktu. Beliau menyatakan, bahwa shalat adalah tiang agama, shalat menjadi pembeda antara seorang muslim dan non muslim, shalat dapat mencegah perbuatan yang keji IniJawabannya. Dalam ayat tersebut, Allah SWT memerintahkan hambaNya untuk taat kepadaNya, kepada Rasulullah, dan kepada Ulil Amri atau pemimpin di antara mereka. Ulama tafsir, Muhammad Quraish Shihab menerangkan, ketaatan terhadap Ulil Amri sebagaimana dijelaskan dalam ayat tersebut berkaitan dengan ketaatan kepada Allah SWT Seorangistri bisa menjadi musuh bagi suami dalam mentaati Allah dan Rasul- Nya. (At-Taghabun: 14) c. Hendaknya senantiasa berdo’a kepada Allah meminta istri yang sholehah. (Al supaya akhlak atau etika anak terhadap kedua orang tua berjalan dengan baik dan sesuai dengan ajaran agama. F. Membangun Keluarga Sakinah. A pa itu Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya.Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikatmalaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (Q.S. otpjWwA. Akhlak Terhadap Allah Dan Rasul "Tafsir Surat al-Hujurat Ayat 1-9" Abstract Tema utama surat al-Hujurat adalah mengenai akhlak, mulai dari akhlak terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya, akhlak terhadap diri sendiri, sampai akhlak kepada orang lain, baik yang Muslim maupun yang non Muslim. Pembahasan ini hanya dibatasi pada tuntunan akhlak terhadap Alah dan Rasulullah, sebagaimana yang tercantum dalam sembilan ayat pertama dari surat ini. Ayat pertama sebagai mukadimah meletakkan dasar dari semua nilai-nilai yang akan disampaikan dalam keseluruhan isi surat, yaitu jangan mendahului Allah dan Rasul-Nya dalam segala hal. Dalam konteks para sahabat, mereka tidak boleh memutuskan sesuatu, apalagi masalah ibadah, sebelum ada petunjuk dari Allah dan Rasul-Nya. [1] Amalan-Amalan Paling UtamaDari Abu Amr asy-Syaibani, dia berkata Pemilik rumah ini -beliau mengisyaratkan dengan tangan menunjuk rumah Abdullah Ibnu Mas’ud– menuturkan kepadaku. Beliau berkata Aku pernah bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, “Amalan apakah yang paling dicintai Allah azza wa jalla?”. Beliau menjawab, “Sholat pada waktunya.” Aku bertanya lagi, “Lalu apa?”. Beliau menjawab, “Kemudian berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya lagi, “Lalu apa?”. Beliau menjawab, “Kemudian berjihad di jalan Allah.” Beliau -Ibnu Mas’ud- berkata, “Beliau telah menuturkan kepadaku itu semua. Seandainya aku meminta tambahan lagi niscaya beliau juga akan menambahkannya kepadaku.” HR. Bukhari dan Muslim, dinilai sahih al-Albani dalam al-Irwa’. Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 33[2] Berbakti Kepada Ibu dan BapakDari Bahz bin Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya. Kakeknya berkata, “Wahai Rasulullah! Kepada siapakah aku harus berbakti?”. Beliau menjawab, “Ibumu.” Lalu aku bertanya, “Kepada siapakah aku harus berbakti?”. Beliau menjawab, “Ibumu.” Lalu aku bertanya, “Kepada siapakah aku harus berbakti?”. Beliau menjawab, “Ibumu.” Lalu aku bertanya, “Kepada siapakah aku harus berbakti?”. Beliau menjawab, “Ayahmu. Kemudian kerabat yang terdekat dan seterusnya.” HR. Tirmidzi, dinilai hasan al-Albani dalam al-Irwa’. Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 34[3] Amalan Penebus DosaDari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, ada seorang lelaki datang menemui dirinya dan menceritakan, “Suatu ketika aku melamar seorang perempuan, akan tetapi dia tidak mau menikah denganku. Lalu ada orang selainku yang melamarnya dan dia pun mau menikah dengannya. Aku pun merasa cemburu kepadanya, hingga aku pun aku masih bisa bertaubat?”. Beliau -Ibnu Abbas- bertanya, “Apakah ibumu masih hidup?”. Maka beliau mengatakan, “Kalau begitu bertaubatlah kepada Allah azza wa jalla dan dekatkanlah dirimu kepada-Nya sekuat kemampuanmu.” Atha’ bin Yasar berkata Aku pun berangkat kepada Ibnu Abbas dan bertanya kepadanya, “Mengapa engkau bertanya tentang apakah ibunya masih hidup?”. Beliau menjawab, “Sesungguhnya aku tidak mengetahui ada suatu amalan yang lebih mendekatkan diri kepada Allah azza wa jalla daripada berbakti kepada seorang ibu.” HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dinilai sahih al-Albani dalam ash-Shahihah, lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 34[4] Dosa Besar Yang Paling BesarDari Abu Bakrah radhiyallahu’anhu, beliau berkata Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Maukah aku kabarkan kepada kalian, dosa besar yang paling besar?” Beliau mengulanginya sampai 3 kali. Mereka -para Sahabat- menjawab, “Tentu saja wahai Rasulullah!”. Maka beliau bersabda, “Berbuat syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” Beliau pun duduk setelah sebelumnya bersandar. Lalu beliau meneruskan, “Ketahuilah, demikian pula berbicara dusta.” Beliau terus mengulanginya sampai-sampai aku berkata, “Mudah-mudahan beliau diam.” HR. Bukhari dan Muslim, dinilai sahih al-Albani dalam Ghayat al-Maram, lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 37[5] Lebih Utama Daripada BerperangDari Abdullah bin Amr radhiyallahu’anhu, beliau menceritakan Ada seorang lelaki yang datang menemui Nabi shallallahu alaihi wa sallam ingin ikut berjihad. Maka beliau bertanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?”. Dia menjawab, “Iya.” Maka beliau bersabda, “Kalau begitu berjihadlah dengan berbakti kepada keduanya.” HR. Bukhari dan Muslim, dinilai sahih al-Albani dalam al-Irwa’, lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 39[6] Keutamaan Doa Anak Untuk Orang Tua Yang Sudah MeninggalDari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata Mayit akan diangkat derajatnya setelah kematiannya. Maka dia pun bertanya, “Wahai Rabbku! Apakah ini?”. Maka dijawab, “Anakmu telah memintakan ampunan untukmu.” HR. Bukhari dalamal-Adab al-Mufrad, dinilai al-Albani sanadnya hasan, lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 45[7] Amalan Yang Tidak Terputus Setelah MeninggalDari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallambersabda, “Apabila seorang hamba meninggal maka terputuslah amalannya kecuali tiga sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak salih yang mendoakan kebaikan bagi orang tuanya.” HR. Muslim, dinilai sahih al-Albani dalam al-Irwa’, lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 45[8] Jalan Menuju SurgaDari Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu’anhu, beliau menceritakan bahwa suatu saat di tengah-tengah perjalanan ada seorang arab badui muncul dan bertanya kepada Nabishallallahu alaihi wa sallam, “Kabarkan kepadaku apakah yang dapat mendekatkan diriku ke surga dan menjauhkan aku dari neraka?”. Beliau pun menjawab, “Engkau beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, lalu kamu mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan menyambung silaturahmi.” HR. Bukhari dan Muslim, dinilai sahih al-Albani dalam at-Targhib, lihatShahih al-Adab al-Mufrad, hal. 48[9] Memuliakan TetanggaDari Aisyah radhiyallahu’anha, beliau berkata Aku pernah bertanya, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku punya dua orang tetangga. Kepada siapakah aku harus memberikan hadiah?”. Beliau menjawab, “Kepada orang yang lebih dekat pintunya denganmu di antara mereka berdua.” HR. Bukhari, dinilai sahih al-Albani. LihatShahih al-Adab al-Mufrad, hal. 66[10] Berbagi Makanan Untuk TetanggaDari Ibnu az-Zubair, beliau berkata Aku mendengar Nabi shallallahu alaihi wa sallambersabda, “Bukanlah seorang mukmin sejati, orang yang senantiasa merasa kenyang sementara tetangganya kelaparan.” HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dinilai sahih al-Albani dalam ash-Shahihah. Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 67[11] Berbuat Baik Kepada TemanDari Abdullah bin Amr bin al-’Ash radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik teman di sisi Allah ta’ala adalah yang paling berbuat baik kepada temannya. Dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah yang paling berbuat baik kepada tetangganya.” HR. Tirmidzi, dinilai sahih al-Albani dalamash-Shahihah. Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 68[12] Tidak Mengganggu TetanggaDari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallambersabda, “Tidak akan masuk surga, orang yang tetangganya tidak bisa merasa aman dari gangguannya.” HR. Muslim, dinilai sahih al-Albani dalam ash-Shahihah. LihatShahih al-Adab al-Mufrad, hal. 70[13] Menyantuni Janda dan Fakir MiskinDari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang berusaha untuk menyantuni janda dan orang miskin seperti orang yang berjihad di jalan Allah, dan seperti orang yang rajin berpuasa di siang hari dan menegakkan sholat di malam hari.” HR. Bukhari dan Muslim, dinilai sahih al-Albani dalam ash-Shahihah. Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 74[14] Budak Pun Harus DimuliakanDari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Seorang budak memiliki hak untuk diberikan makanan dan pakaian, dan tidak boleh dibebani pekerjaan yang dia tidak mampu untuk mengerjakannya.” HR. Muslim, dinilai sahih al-Albani dalam al-Irwa. Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 91[15] Sedekah Yang Paling UtamaDari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata Nabi shallallahu alaihi wa sallammemerintahkan untuk bersedekah. Lalu ada seorang lelaki berkata, “Saya punya uang 1 dinar?”. Beliau menjawab, “Nafkahilah dirimu sendiri.” Lalu dia berkata, “Saya masih punya 1 dinar lagi?”. Beliau menjawab, “Nafkahilah istrimu.” Lalu dia berkata, “Saya masih punya 1 dinar lagi?”. Beliau menjawab, “Nafkahilah pembantumu, kemudian perhatikanlah yang lain.” HR. Nasa’i, dinilai hasan al-Albani dalam Shahih Abu Dawuddan al-Irwa’. Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 92[16] Membalas Kebaikan Dengan KebaikanDari Jabir bin Abdullah al-Anshari radhiyallahu’anhu, beliau berkata Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mendapatkan kebaikan dari orang lain maka balaslah kebaikannya. Apabila dia tidak memiliki sesuatu yang bisa untuk membalas kebaikannya, maka pujilah dia. Karena apabila dia telah memujinya itu merupakan bentuk syukur/ucapan terima kasih kepadanya. Dan apabila dia justru menyembunyikan hal itu, maka dia telah mengingkarinya. Barangsiapa yang berhias diri dengan sesuatu yang tidak dia miliki maka seolah-olah dia mengenakan dua lembar pakaian kedustaan.” HR. Tirmidzi, dinilai sahih al-Albani dalam Takhrij at-Targhibdan ash-Shahihah. Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 98[17] Termasuk Bentuk Syukur Kepada AllahDari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak dianggap bersyukur kepada Allah orang yang tidak pandai berterima kasih kepada sesama manusia.” HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dinilai sahih al-Albani dalam ash-Shahihah. Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 99[18] Menjadi Cermin Bagi SaudaranyaDari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata, “Seorang mukmin itu adalah cermin bagi saudaranya. Apabila dia melihat padanya suatu aib/cacat, maka dia pun berusaha untuk memperbaikinya.” HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dinilai sanadnya hasan oleh al-Albani. Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 106[19] Keutamaan Akhlak MuliaDari Abud Darda’ radhiyallahu’anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan melebihi akhlak yang mulia.” HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dinilai sahih al-Albani dalam ash-Shahihah. Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 117-118[20] Hakikat KekayaanDari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Bukanlah kekayaan itu diukur dengan banyaknya perbendaharaan harta. Akan tetapi hakikat kekayaan adalah jiwa yang merasa cukup.” HR. Bukhari dan Muslim, dinilai sahih al-Albani dalam Takhrij al-Misykat. Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 119-120[21] Sebab Yang Menjerumuskan Ke Dalam NerakaDari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata Nabi shallallahu alaihi wa sallambersabda, “Tahukah kalian apa yang paling banyak menjerumuskan orang ke dalam neraka?”. Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau mengatakan, “Yaitu dua buah lubang kemaluan dan mulut. Dan apakah yang paling banyak memasukkan orang ke dalam surga? Ketakwaan kepada Allah dan akhlak yang mulia.” HR. Ibnu Majah, dinilai hasan al-Albani dalam Takhrij at-Targhib. Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 123[22] Menghormati Yang Lebih Tua, Menyayangi Yang Lebih MudaDari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa yang tidak menyayangi orang yang lebih muda di antara kami dan tidak mengerti hak orang yang lebih tua maka dia bukan termasuk golongan kami.” HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dinilai sahih al-Albani dalam Shahih at-Targhib. Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 142[23] Bergaul dan Bersabar Menghadapi Gangguan OrangDari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabarmenghadapi gangguan mereka lebih baik daripada seorang mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar menghadapi gangguan mereka.” HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, dinilai sahih al-Albani dalam ash-Shahihah. Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 153-154[24] Menjaga Persatuan dan PersaudaraanDari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallambersabda, “Janganlah kalian saling membenci, janganlah saling mendengki, janganlah saling membelakangi. Jadilah kalian wahai hamba-hamba Allah, sebagai orang-orang yang bersaudara. Tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam.” HR. Bukhari dan Muslim, dinilai sahih al-Albani dalam Ghayat al-Maram. LihatShahih al-Adab al-Mufrad, hal. 157Wallahu a’lam.— Jakarta - Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wasallam adalah suri tauladan yang baik dalam berbagai hal. Termasuk dalam perbuatan atau SWT berfirman dalam QS. Al Ahzab ayat 21لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ - ٢١ Artinya "Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah." QS. Al Ahzab 21Secara etimologi, akhlak berasal dari bahasa Arab yang merupakan bentuk jamak dari khuluq. Kata tersebut artinya perilaku dan tabiat manusia sejak lahir. Syaikh Mahmud Al-Mishri dalam Ensiklopedi Akhlak Rasulullah Jilid 1 mengatakan, Ar-Raghib memaknai Al khuluq sebagai kekuatan dan karakter yang ditemukan dengan mata surat Al Qalam ayat 4, Allah SWT berfirmanوَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ - ٤Artinya "Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur." QS. Al-Qalam 4Diriwayatkan dari Mujahid tentang firman Allah "berbudi pekerti yang luhur", ia berkata, "Yaitu agama." Sementara itu, dari Aisyah ra. ketika ditanya akhlak Rasulullah SAW, ia menjawab, "Akhlak beliau Al Quran." HR. Ahmad dan disahihkan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Shahih Al-Jami'Dikutip dari buku Ensiklopedi Akhlak Rasulullah Jilid 1 dan 2 oleh Syaikh Mahmud Al-Mishri, berikut akhlak Rasulullah SAW yang patut diteladani umat Islam1. IkhlasRasulullah SAW terkenal dengan keikhlasannya, terutama dalam beribadah. Al-Kafawi mendefinisikan ikhlas sebagai meniatkan ibadah sehingga hanya Allah semata yang disembah. Pendapat lain menyebutkan, ikhlas adalah membersihkan hati, ucapan, dan 3 hal yang harus dilakukan untuk bisa berbuat ikhlas. Pertama, buanglah sifat tamak. Kedua, jauhi sanjungan dan pujian. Ketiga, lakukan dengan teguh. Setelah ketiga hal tersebut dilakukan, maka akan keikhlasan akan umat Islam, sudah sepatutnya mencontoh keikhlasan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits hasan, Rasulullah SAW bersabda "Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal selain apa yang dilakukan secara ikhlas dan mengharap ridha-Nya." HR. An-Nasa'i.2. Yakin dan TawakalYakin dan tawakal adalah akhlak Rasulullah SAW yang patut dicontoh setiap umat Islam dalam menjalankan segala urusan. Baik urusan agama maupun urusan dunia. Bahkan, Allah SWT telah memerintahkan umat manusia untuk bertawakal رَجُلَانِ مِنَ الَّذِيْنَ يَخَافُوْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوْا عَلَيْهِمُ الْبَابَۚ فَاِذَا دَخَلْتُمُوْهُ فَاِنَّكُمْ غٰلِبُوْنَ ەۙ وَعَلَى اللّٰهِ فَتَوَكَّلُوْٓا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ - ٢٣Artinya "Berkatalah dua orang laki-laki di antara mereka yang bertakwa, yang telah diberi nikmat oleh Allah, "Serbulah mereka melalui pintu gerbang negeri itu. Jika kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan bertawakallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang beriman." QS. Al Maidah 23Dalam sebuah hadits yang berasal dari Umar bin Khaththab ra. Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh, seandainya kalian bertawakallah kepada Allah sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana rizki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang." HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah3. JujurNabi Muhammad SAW memiliki sifat shidiq jujur. Kejujuran beliau sudah diasah sejak kecil, saat ikut berdagang bersama pamannya, Abu Thalib. Kejujuran adalah salah satu bukti keimanan seseorang. Kejujuran akan mengantarkan hidup menuju sebuah hadits yang berasal dari Abu Muhammad Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib meriwayatkan, "Aku menghafalkan sabda Rasulullah SAW, "Tinggalkanlah apa yang meragukanmu pada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran lebih menenangkan jiwa, sedangkan dusta menggelisahkannya." HR. At-Tirmidzi dan AhmadSetidaknya ada 3 macam kejujuran. Yaitu jujur dalam ucapan, jujur dalam perbuatan, dan jujur dalam AmanahAmanah adalah akhlak Rasulullah SAW yang paling menonjol. Beliau dikenal sebagai sosok yang jujur dan amanah terpercaya, baik sebelum diutus menjadi rasul maupun setelahnya. Hal itulah yang menjadikan masyarakat Arab memilih beliau untuk menjaga barang titipan Allah SWT telah menjadikan amanah sebagai sifat yang melekat pada setiap nabi. Dalam surat Al-An'am ayat 90 Dia berfirmanاُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ فَبِهُدٰىهُمُ اقْتَدِهْۗArtinya "Mereka itulah para nabi yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka." QS. Al-An'am 90Merujuk pada ayat di atas, Allah SWT telah memerintahkan kepada seluruh manusia untuk mengikuti jejak para nabi. Untuk itu, sebagai umat Islam, sudah sepatutnya bersungguh-sungguh dalam menunaikan amanah yang telah dititipkan Allah dan mengikhlaskan niat karena Allah Murah Senyum dan Selalu CeriaRasulullah SAW adalah sosok yang murah senyum dan selalu ceria. Beliau juga selalu mengeluarkan perkataan yang baik. Dalam sebuah hadits, disebutkan bahwa perkataan yang baik akan menaikkan derajat di SAW bersabda "Dan yang termasuk mengangkat derajat adalah perkataan yang baik, menyebarkan salam, memberi makanan, sholat malam saat manusia dalam keadaan tidur." HR. Ahmad dan disahihkan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Shahih Al-Jami'Orang yang memiliki senyuman hangat, berkata baik, dan selalu ceria adalah orang yang akan selalu dirindukan dan sangat buah dari bermuka ceria adalah menumbuhkan kecintaan terhadap sesama kaum muslimin, menumbuhkan kenyamanan saat bertemu sesama muslim, mendapat ridha dari Allah SWT, dan mengikuti Rasulullah hikmah, meneladani akhlak Rasulullah SAW merupakan salah satu bentuk ketaatan kepada beliau. Akhlak terpuji adalah cara paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. erd/erd - Daftar dalil tentang akhlak dalam Islam beserta lafal dan artinya di antaranya surah Al Bayyinah ayat 5, surah Al-Baqarah ayat 153, surah Al-Baqarah ayat 152, surah Al-A’raf ayat 199, hingga surah Al-Hujurat ayat 12-13. Berbagai aspek dalam ajaran Islam menekankan pada pembinaan akhlak umatnya. Hal ini sejalan dengan salah satu tugas diutusnya Nabi Muhammad SAW, yakni memperbaiki akhlak dan cara berperilaku mulia. Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Abu Hurairah bersabda sebagai berikut “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak,” Baihaqi. Secara etimologi, kata akhlak dalam bahasa Arab berasal dari bentuk jamak khuluq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabiat. Sementara itu, akhlak menurut asal kata kerjanya berasal dari khalaqa yang berarti menciptakan. Dari kedua asal kata tersebut, akhlak dapat dimaknai tata aturan atau norma perilaku yang mengatur hubungan, baik sesama manusia maupun dengan Sang Pencipta. Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i Imam Ghazali, seorang filsuf dan teologi muslim asal Persia dalam kitab Ihya Ulumuddin 1100an Masehi, menjelaskan bahwa akhlak adalah suatu perangai yang menetap kuat dalam jiwa seseorang, dan merupakan sumber timbulnya perbuatan-perbuatan tertentu dari dirinya, secara mudah dan ringan, tanpa perlu dipikirkan maupun direncanakan sebelumnya. Akhlak dalam Islam secara umum dibagi 2 jenis akhlak wad’iyyah dan akhlak Islam. Pertama, akhlak wad’iyyah adalah norma yang diciptakan manusia untuk mengatur tindakan serta perilaku di masyarakat. Kedua, akhlak Islam merupakan akhlak yang dianjurkan untuk umat muslim, dan merujukkan pada aturan-aturan dalam Al-Qur’an dan hadis. Kemudian, akhlak Islam dibagi 2 jenis akhlak mahmudah terpuji dan akhlak mazmumah tercela. Akhlak mahmudah adalah akhlak yang dianjurkan pengerjaannya dalam Islam. Di samping itu, akhlak ini merupakan gambaran keimanan seorang muslim sebagaimana dikatakan dalam hadis riwayat Tirmidzi berikut “Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya,” Tirmidzi. Sementara itu, akhlak mazmumah adalah akhlak yang sebaiknya dihindari dan dijauhi kaum juga Akhlak Terpuji Kepada Diri Sendiri dalam Islam, Apa Saja? Ayat-Ayat Al-Qur'an Tentang Akhlak Serta Penjelasannya Daftar Dalil Tentang Akhlak dalam Islam Beserta Lafal dan Artinya Terdapat banyak ayat di dalam Al-Qur’an yang mengatur perihal akhlak bagi umat Islam. Berikut ini daftar dalil tentang akhlak dalam Islam beserta lafal dan artinya Surah Al Bayyinah Ayat 5وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ ٥ Wa maa umiruu il-la liy'abu dul laaha mukhlisiina lahud-diina huna faa-a wa yuqiimus salaahta wa yu-tuz zakaata; wa zaalika diinul qaiyimahArtinya “Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif [istikamah], melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus [benar],” QS. Al-Bayyinah [98]5. Surah Al-Baqarah ayat 153فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ ࣖ ١٥٢ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ ١٥٣ Yaaa ayyuhal laaziina aamanus ta'iinuu bissabri was Salaah; innal laaha ma'as-saabiriinArtinya “Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku. Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan [kepada Allah] dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar,” QS. Al-Baqarah [2]152-153. Surah Al-A’raf Ayat 199خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ ١٩٩ khuzil 'afwa waamur bil'urfi waa'rid 'anil jaahiliinArtinya “Jadilah pemaaf, perintahlah [orang-orang] pada yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh,” QS. Al-A’raf [7]199. Surah An-Nahl Ayat 90۞ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ ٩٠ Innal laaha yaamaru bil 'adli wal ihsaani wa iitaaa'i zil qurbaa wa yanhaa 'anil fahshaaa'i wal munkari walbagh-i' ya'izukum la'allakum tazakkkaruunArtinya “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia [juga] melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pelajaran kepadamu agar kamu selalu ingat,” QS. An-Nahl [16]90. Surah Al-Hujurat Ayat 12-13يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ ١٢ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ١٣ Yaaa ayyuhal laziina aamanuj tanibuu kasiiram minaz zanni inna ba'daz zanniismunw wa laa tajassasuu wa la yaghtab ba'dukum ba'daa; a yuhibbu ahadukum any yaakula lahma akhiihi maitan fakarih tumuuh; wattaqul laa; innal laaha tawwaabur Rahiim; Yaaa ayyuhan naasu innaa khalaqnaakum min zakarinw wa unsaa wa ja'alnaakum shu'uubanw wa qabaaa'ila lita'aarafuu inna akramakum 'indal laahi atqookum innal laaha 'Aliimun khabiirArtinya “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti,”QS. Al-Hujurat [49]12-13.Baca juga Daftar Dalil Tentang Perintah Ikhlas Beramal Lafal dan Artinya Daftar Dalil Jual Beli dalam Islam Beserta Lafal dan Artinya Pengertian Dalil Naqli & Contohnya dalam Al Quran dan Hadis - Pendidikan Kontributor Syamsul Dwi MaarifPenulis Syamsul Dwi MaarifEditor Dhita Koesno Akhlak Terpuji Kepada Allah dan Rasulullah – Di berbagai tempat dan kesempatan, seringkali terdengar di telinga ajakan untuk memperbaiki akhlak. Akhlak sering disebut sebagai suatu perkara yang menjadi titik penilaian seorang manusia. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim yang beriman sangat ditegaskan agar kita memiliki ahklak yang terpuji kepada diri sendiri, orang lain, terutama akhlak terpuji kepada Allah dan Rasul-Nya. Lantas apa yang dimaksud dengan akhlak terpuji itu sebenarnya? Secara singkat, akhlak terpuji adalah tingkah laku seseorang yang didasari oleh kesadaran untuk atau dalam melakukan suatu akhlak kepada Allah adalah satu sikap atau tindakan yang dilakukan hamba sebagai makhluk kepada Sang Khalik Allah SWT. Kenapa manusia harus memiliki akhlak terpuji kepada Allah SWT dan Rasulullah, selain akhlak terpuji kepada sesama? Apa saja contoh akhlak terpuji kepada Allah dan Rasulullah? Simak ulasan kami berikut IsiAkhlak Terpuji Kepada Allah Dan RasulullahContoh Akhlak Terpuji Kepada Allah1. Melaksanakan Ibadah Wajib2. Dzikir3. Berdo’a kepada Allah4. Tawakal5. TawadukAkhlak Terpuji Kepada Rasulullah1. Menjalankan Sunnah Nabi SAW2. Taat kepada kepada Rasulullah SAW3. Membaca Shalawat Untuk Nabi SAW4. Mencintai Keluarga dan Sahabat Rasulullah SAWAkhlak Terpuji Kepada Allah Dan RasulullahUntuk menjawab beberapa pertanyaan di poin sebelumnya. Berikut ini adalah empat alasan mengapa seorang makhluk terutama manusia harus memiliki akhlak terpuji kepada Allah Allah Yang Maha PenciptaAlasan pertama adalah karena, Allah-lah yang menciptakan manusia. Maka, tak ada alasan bagi seorang hamba untuk durhakan dan tidak memiliki akhlak terpuji kepada pencipta-Nya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat adz-Dzariyat ayat ke 56 وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ“Dan tak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka menyembah-Ku.”2. Allah Yang Maha MemberiTak hanya menciptakan manusia, Allah juga telah memberikan apa saja yang manusia butuhkan. Bahkan, tanpa harus kita minta dahulu. Contohnya adalah, alat panca indera yang kita miliki dan kita gunakan hingga saat ini. Seperti yang telah difirmankan-Nya di surat an-Nahl ayat 78 وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.“3. Allah Yang Maha MemudahkanTak pernahkan kita berfikir bahwa semua kemudahan-kemudahan yang kita rasakan dalam hidup adalah berkah permberian dari Allah SWT. Dia-lah Yang Maha Memudahkan hingga kita bisa hidup berkecukupan sampai saat ini. Di-lah yang menciptakan udara hingga kita bisa mudah untuk bernafas. Dia yang menciptakan air yang berlimpah hingga kita bisa mudah memenuhi kebutuhan cairan tubuh. Dan masih banyak yang Firman Allah di surat Al-Jatsiyah ayat 12 – 13 adsbygoogle = [].push{};اللَّهُ الَّذِي سَخَّرَ لَكُمُ الْبَحْرَ لِتَجْرِيَ الْفُلْكُ فِيهِ بِأَمْرِهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ“Allah-lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya dan supaya kamu dapat mencari karunia -Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur.” QS. Al-Jatsiyah12وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ“Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, sebagai rahmat daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.” QS. Al-Jatsiyah134. Allah Yang Maha MemuliakanAllah juga lah yang memberikan kemulian kepada hamba-Nya manusia, hingga manusia disebut sebagai makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna. Hal itu bisa ketahui dari firman Allah dalam surat Al-Israa’ ayat 70 وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. “Dan masih banyak lagi alasaan lainnya yang mengharuskan kita memiliki akhlak terpuji kepada Allah SWT. Lantas bagaimana contoh akhlak terpuji kepada Allah yang bisa kita lakukan di kehidupan sehari-hari? Simak berikut Akhlak Terpuji Kepada Allah1. Melaksanakan Ibadah WajibSebagai seorang hamba manusia yang taat kepada Rabb-Nya, salah satu cotoh akhlak terpuji kepada Allah adalah dengan menjalankan perintah-Nya. Termasuk menjalankan ibadah yang telah diwajibkan. Taat dalam beribadah ini sebagai dasar akhlak terpuji kepada Allah dan bukti ketundukan seorang hamba kepada DzikirBerdizikir atau mengingat Allah SWT dengan menyebut nama-Nya adalah bentuk totalitas penghambaan. Aktivitas ini juga termasuk salah satu akhlak terpuji kepada Allah. Selain itu, banyak manfaat yang akan kita rasakan dengan mendawamkan dzikir. Yang paling utama dari hikmah berdzikir adalah mendekatkan diri kepada Allah.adsbygoogle = [].push{};3. Berdo’a kepada AllahDo’a dalam arti yang sederhana adalah memohon. Memohon kepada Allah SWT atas segala sesuatu yang diinginkan. Terutama berdo’a agar Allah senantiasa memberikan Ridhla kepada kita, baik di dunia maupun di akhirat. Dengan berdo’a secara tak langsung manusia telah mengakui akan eterbatasannya, dan menyandarkan segala sesuatunya kepada Yang Maha Kuasa. Allah SWT sangat menyukai hamba-Nya yang senantiasa berdo’a kepada-Nya. Bahkan bagi mereka yang tak pernah berdo’a, Allah menyebutnya sebagai orang yang sombong. Sedangkan sombong adalah sikap yang paling dibenci oleh Allah TawakalTawakal adalah berserah diri, atau pasrah. Ya! Allah adalah Dzat Yang Maha Kuasa dan Maha Mengetahui akan segala sesuatu hal terkait dengan makhluk-Nya. Berserah diri adalah adab atau akhlak terpuji kepada Allah yang harus dilakukan oleh seorang hamba. Mengingat bahwa kita tak memiliki daya dan kekuatan apa-apa kecuali dari Allah TawadukRendah hati atau tidak menyombongkan diri. Seprti yang telah kita singgung sebelumnya, sombong adalah sikap tercela yang dibenci Allah SWT. Sedangkan manusia adalah makhluk yang rendah dibandingkan dengan Allah Yang Maha Perkasa, Maka, tak ada satupun alasan bagi kita untuk menyombongkan diri dihadapan Allah Azza wa Terpuji Kepada Rasulullah1. Menjalankan Sunnah Nabi SAWMelestarikan atau menjalankan sunnah Nabi SAW adalah contoh akhlak terpuji kepada Rasulullah. Sunnah sendiri adalah ucapan atau perbuatan yang dilakukan Rasulullah semasa Taat kepada kepada Rasulullah SAWRasulullah adalah utusan Allah SWT untuk menyempurnakan akhlak manusia di seluruh muka bumi. Maka, taat kepada Rasulullah SAW adalah sama dengan taat kepada perintah Allah Membaca Shalawat Untuk Nabi SAWShalawat merupakan bentuk jamak alat yang artinya doa. Membaca shalawat adalah menco’akan Nabi SAW agar senantiasa mendapat limpahan berkah dari Allah SAW. memperbanyak baca shalawat juga merupakan salah satu bukti tanda cinta kepada Rasulullah SAW dan akhlak terpuji kepada Rasulullah Mencintai Keluarga dan Sahabat Rasulullah SAWSebagaimana sabda Rasulullah yang diriwayatkan dalam sebuah hadits عن أبي سَعِيْد الخُذْرِي قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إنَّنِيْ تَارِكٌ فِيْكُمُ الثَّقَلَيْنِ كِتَابَ اللهِ وَعِتْرَتِي أهْلُ بَيْتِيْ. رواه الترمذي“Dari Abi Said al-Khudri ia berkata, Rasululla SAW bersabda, “Sesungguhnya aku tinggalkan untuk kalian dua wasiat, Kitabullah Al-Qur’an dan keluargaku.” HR at-TirmidziSedangkan perintah Nabi SAW untuk mencintai sahabatnya, juga diabadikan dalam hadits dari riwayat Abu Hurairah Ra. Ia berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda لَا تَسُبُّوْا أصْحَابِي لَا تَسُبُّوْا أصْحَابِي فَوَ الّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَوْ أنَّ أحَدَكُمْ أنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أدْرَكَ مُدَّ أحَدِهِمْ وَلَا تَصِيْفَه“Janganlah kalian mencaci para sahabat, janganlah kalian mencaci sahabatku! Demi Dzat Yang Menguasaiku, andaikata salah satu diantara kalian menafkahkan emas sebesar gunung Uhud, maka pahala nafkah itu tidak akan menyamai pahala satu mud atau setengahnya dari nafkah mereka.” HR Muslim.

akhlak terhadap allah dan rasul